Bungkarno Sang Fajar

Redaksi
By Redaksi
3 Min Read
santai, membaca buku bungkarno (foto: dok. suararakyat.id)

06 Juni  kita kenal dengan Hari lahir Bungkarno. Presiden pertama kita tidak hanya disebut bapak proklamator, beliau juga memiliki julukan yakni Putra Sang Fadhjar. Kelahiran Bungakarno bukan hanya awal dari hari yang baru, akan tetapi juga awal dari abad yang baru, beliau dilahirkan pada tahun 1901.

Bagi bangsa Indonesia abad ke 19 merupakan zaman yang kelam, namun sebaliknya pada tahun  1901 merupakan zaman yang penuh semangat didalam pasang naiknya revolusi kemanusiaan. Tahun 1901 adalah satu zaman munculnya bangsa-bangsa baru yang merdeka di Benua Asia dan Afrika, berkembangnya negara negara sosialis yang meliputi seribu juta manusia. Fenomena selanjutnya adalah abad Atom dan abad ruang Angkasa. Mereka yang dilahirkan dalam abad tersebut terikat oleh satu kewajiban untuk menjalankan tugas-tugas kepahlawanan.

Di Istana Bogor, terdapat sebuah pelakat timbul yang terbuat dari batu pualam putih yang melukiskan kelahiran Hercules, pelakat itu menunjukkan kelahiran Hercules dalam pangkuan ibunya, dikelilingi empat belas perempuan cantik semua tanpa busana . Dapat kita bayangkan betapa bahagianya dilahirkan ditengah tengah 14 perempuan cantik seperti itu! Bungkarno tidak seberuntung Hercules, pada waktu beliau dilahirkan tak seorang pun yang memeluknya kecuali seorang kakek yang sudah sangat tua.

Lantas mengapa Bung Karno disebut Putra Sang Fajar? Dikutip pada Buku Penyambung Lidah Rakyat, Soekarno bercerita tentang Putera Sang Fadjar.

IBU telah memberikan pangestu kepadaku ketika aku baru berumur beberapa tahun. Di pagi itu, beliau sudah bangun sebelum matahari terbit dan duduk didalam gelap di beranda rumah kami yang keciil, tiada bergerak.

tidak berbuat apa-apa, ia tidak berkata apa-apa, hanya memandang arah ke timur dan dengan sabar menantikan hari akan siang. Akupun bangun dan mendekatinya. Diulurkannya kedua belah tangannya dan meraih badanku yang kecil kedalam pelukannya.

Sambil lalu mendekapkan tubuhku ke dadanya, beliau memelukku dengan rasa tenang. Kemudian ia berbicara dengan suara lunak.

“Engkau sedang memandangi fajar, nak”. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakjat kita, karena ibu melahirkanmu pada jam setengah enam pagi disaat fadjar mulai menjingsing.

Kita orang Djawa mempunjai suatu kepercayaa, bahwa orang yang dilahirkan disaat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu, jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan nak, bahwa engkau ini putera dari sang fajar. Die

SELAMAT MEMPERINGATI  HARI LAHIR BUNGKARNO 06 Juni 2022….!

TAGGED:
Share This Article