Kreatif, Mahasiswa Pengabdian Masyarakat Kelompok 53 UTM Manfaatkan Klaras Pisang Sebagai Pewarna Alami

Redaksi By Redaksi
4 Min Read

SUMENEP, Suararakyat.id – Mahasiswa pengabdian masyarakat kelompok 53 Universitas Trunojoyo Madura dengan dosen pembimbing lapangan Vidya Nindhita, M.Psi., Psikolog membuat inovasi dengan memanfaatkan daun pisang kering (klaras) sebagai pewarna alami makanan. Makanan yang dibuat berasal dari Jawa Barat yang biasanya disebut ”Ongol-Ongol,” di Desa Taman Sareh, kecamatan Dungkek, Sumenep Minggu, (9/7/2023)

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi karena terdapat cukup banyak limbah daun pisang di Desa Taman Sareh. Siklus hidup pohon pisang yang relatif pendek dan produksi buah yang hanya sekali panen. Hal tersebut menyebabkan banyak pohon pisang yang tidak terurus.

”Biasanya setelah memanen buah pisang, pohonnya kita biarkan begitu saja hingga tumbang dengan sendirinya” ujar salah satu warga desa.

Nilawati, salah satu anggota KKN-T 53 menyebut bahwa daun pisang mengandung berbagai nutrisi dan senyawa aktif yang dapat memberikan manfaat kesehatan. Oleh karena itu, dirinya bersama anggota memanfaatkan daun pisang menjadi pewarna alami makanan.

“Daun pisang mengandung serat pangan yang penting untuk pencernaan yang sehat. Serat membantu meningkatkan pergerakan usus, mengurangi risiko sembelit, dan menjaga kesehatan saluran pencernaan,” ujar Nilawati.

Selain itu,  daun pisang juga mengandung beberapa vitamin, termasuk vitamin A, vitamin C, dan vitamin E. Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan sistem kekebalan tubuh, vitamin C berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan pembentukan kolagen, sedangkan vitamin E berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan oksidatif.

Adapun dalam pembuatan makanan ongol-ongol ada beberapa bahan-bahan yang perlu dipersiapkan, yaitu untuk bahan cairan abu dibutuhkan daun pisang yang kering (klaras) secukupnya dan  campurkan dengan 100ml air. Sedangkan untuk bahan adonan ongol-ongol, diperlukan 150 gram tepung terigu. Berikut bahan-bahan pendukung lainnya: 

  1. 150 gram tepung tapioka
  2. 8 sdm gula pasir
  3. ½ sdt vanili bubuk
  4. ¼ sdt garam
  5. 500 ml air
  6. 1 sachet santan (65 ml)

Bahan Sajian:

  1. ½ butir kelapa parut 
  2. ¼  sdt garam
  3. 1 lembar daun pandan

Sementara itu, proses pembuatan ongol-ongol sebagai berikut:

  1. Campurkan tepung tapioka, tepung terigu, gula pasir, vanili, air, santan, dan garam dalam wadah 
  2. Lalu campurkan bahan cairan abu daun pisang di adonan yang telah dibuat sebelumnya, aduk hingga rata.
  3. Panaskan wajan dan tuang adonan dalam wajan, aduk hingga matang dan mengental, jika sudah matang dan mengental, angkat adonan ke wadah yang lebar untuk didinginkan 
  4. Selagi menunggu adonan dingin, kukus kelapa parut yang sudah di beri garam dan diberi pandan agar wangi.
  5. Bungkus adonan ongol ongol yang sudah dingin tadi menggunakan daun pisang yang sudah di olesi minyak agar tidak lengket.
  6. Ongol ongol yang setengah matang tadi di kukus lagi sampai matang dan memiliki tekstur yang pas.
  7. Kue ongol-ongol siap disajikan. Anda juga dapat menambahkan kelapa parut sebagai pelengkap.

Mahasiswa pengabdian masyarakat UTM berharap makanan tersebut dapat dijadikan salah satu referensi usaha bagi warga desa untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Serta dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga mengurangi tingkat pengangguran. 

“Dengan adanya inovasi ini kami berharap warga desa dapat mengembangkan potensi yang ada di sekitar agar memiliki sumber pencaharian baru,” pungkasnya.

Share This Article