Tujuh Tradisi Unik Menyambut Ramadhan

Redaksi By Redaksi
4 Min Read

BUDAYA, Suararakyat.id – Bulan Ramadhan adalah ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, menyambut Ramadhan dengan meriah menjadi suatu tradisi yang selalu dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.

Berbagai tradisi unik turun temurun dari masing-masing daerah yang tetap dilestarikan hingga saat ini. Berikut ini akan kami ulas 7 tradisi yang unik yang dilakukan untuk menyambut Ramadhan.

1. Makan telur ikan, Kendal

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Kaliwungu, Kendal yakni makan telur ikan mimi. Ikan mimi adalah binatang laut yang menyerupai ikan pari. Menjelang Ramadhan, telur ikan mimi banyak dijajakan di alun-alun kota yang disulap menjadi pasar tiban atau pasar dadakan.

Warga setempat meyakini telur ikan mimi ini biasa dimakan oleh penyebar agama Islam. Biasanya, warga memakan telur ikan mimi malam menjelang Ramadhan. Selain makan telur ikan mimi, warga Kaliwungu juga memiliki tradisi tukuder yang artinya membeli makanan jelang Ramadhan.

2. Upacara Bantaian Adat, Merangin

Tradisi ini merupakan tradisi masyarakat Rantau Panjang Kabupaten Merangin. Upacara ini dilakukan dengan memotong kerbau untuk dibagikan kepada masyarakat. Biasanya diselenggarakan satu minggu jelang puasa Ramadhan.

Acara ini juga menjadi momen mempererat hubungan masyarakat wilayah Merangin, sebab seluruh lapisan masyarakat akan terlibat dan bergotong royong dalam pelaksanaannya.

3. Bakar batu, Papua

Di Papua, seperti di Jayapura umat Muslim menyambut Ramadhan dengan tradisi bakar batu. Tradisi ini disebut bakar batu karena batu dibakar hingga panas lalu di tumpuklah bahan makanan seperti daging ayam, kambing, sapi, dan umbi-umbian.

Tumpukan makanan ini kemudian ditutup lagi dengan batu panas hingga matang. Tradisi bakar batu dilakukan untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan sebelum bulan Ramadhan tiba.

4. Tradisi Jumat Terakhir, Sumenep

Jelang bulan suci Ramadhan, ratusan warga di Kabupaten Sumenep melaksanakan tradisi dengan berbondong-bondong ziarah ke Makam Asta Tinggi. Tradisi itu dikenal dengan Jumat Dhi-budhi (Jumat Terakhir) sebelum memasuki bulan puasa.

Tradisi Jumat Dhi-budhi  dilakukan dengan membersihkan makam orang tua atau keluarga lalu mendoakannya. Masyarakat yang melakukan tradisi ini percaya, membersihkan makam adalah simbol dari pembersihan diri menjelang Bulan Suci. Nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu dan leluhur

5. Padusan, Jawa Tengah dan Yogyakarta

Padusan berasal dari kata adus yang berarti mandi. Tujuannya adalah menyucikan diri, membersihkan jiwa, dan raga, sehingga saat Ramadhan datang umat muslim dapat menjalani ibadah dalam kondisi suci lahir maupun batin.

Tradisi yang merupakan warisan leluhur ini, dilakukan dengan cara berendam atau mandi di sumber mata air. Saat ini, kebanyakan kegiatan padusan dilakukan secara beramai-ramai bahkan menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

6. Mohibada, Gorontalo

Tradisi Mohibadaa, yaitu membalurkan ramuan rempah-rempah tradisional sebagai masker wajah. Ramuan rempah-rempah yang digunakan antara lain tepung beras, humopoto (kencur), bungale (bangle), dan alawahu (kunyit). Disarankan menggunakan beras ketan agar hasil tepungnya halus.

Mohibadaa dilakukan untuk menjaga kondisi kulit karena biasanya saat puasa, kulit terasa kering apalagi cuaca Gorontalo sangat panas. Biasanya, paket rempah tradisional ini dijual di pasar tradisional sehingga masyarakat Gorontalo tak perlu meracik sendiri. Tak hanya aromanya yang harum sepanjang hari, kulit juga akan terasa kencang, sehat berseri, tidak kering, dan mengurangi kerutan.

7. Mattunu Solong, Sulawesi Barat

Mattunu Sulong dilakukan dengan beramai-ramai menyalakan pelita (cahaya). Pelita yang telah menyala ditempatkan pada seluruh bagian rumah, di antaranya pagar, halaman, anak tangga, pintu masuk hingga dapur.

Melalui tradisi ini, warga mengungkapkan harapan kepada Tuhan yang maha esa agar senantiasa memberi kesehatan dan umur panjang. Sehingga tahun depan bisa kembali menunaikan ibadah puasa. (Sol)

Share This Article