Oleh: H. Slamet Ariyadi
Hari Tani Nasional bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan petani. Lebih dari itu, Hari Tani menjadi pengingat bahwa di balik pangan yang tersaji di meja makan masyarakat, ada kerja keras jutaan petani yang setiap hari berhadapan dengan berbagai tantangan.
Petani tidak hanya membutuhkan apresiasi. Mereka membutuhkan keberpihakan yang diwujudkan melalui kebijakan, akses terhadap pupuk dan benih, kepastian harga hasil panen, perlindungan lahan pertanian, hingga akses terhadap teknologi dan pasar.
Karena itu, semangat membantu rakyat harus hadir dalam kerja nyata. Politik tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus mampu menjawab persoalan yang dirasakan masyarakat secara langsung.
Dalam konteks tersebut, semangat PAN Bantu Rakyat dapat diterjemahkan sebagai komitmen untuk terus mendengar aspirasi masyarakat, termasuk para petani yang menjadi salah satu fondasi ketahanan pangan nasional.
Persoalan petani di setiap daerah tentu berbeda. Petani padi menghadapi persoalan harga dan biaya produksi. Petani tembakau menghadapi persoalan tata niaga dan serapan hasil panen. Di daerah pesisir, masyarakat juga berhadapan dengan tantangan kehidupan sebagai nelayan.
Semua persoalan itu membutuhkan kehadiran negara dan wakil rakyat yang mau turun melihat kondisi secara langsung. Mendengar keluhan petani di lapangan sering kali memberikan gambaran yang jauh lebih nyata dibanding sekadar membaca laporan.
Hari Tani juga menjadi momentum untuk mendorong regenerasi petani. Anak muda perlu melihat sektor pertanian bukan sebagai pekerjaan masa lalu, melainkan sebagai sektor masa depan yang bisa dikembangkan dengan teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.
Pertanian modern harus mampu memberikan nilai tambah. Petani tidak semestinya hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga memiliki kesempatan masuk ke sektor pengolahan, pemasaran, hingga ekonomi digital.
Di sinilah politik kerakyatan mendapatkan relevansinya. Membantu rakyat berarti memastikan kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Bukan hanya hadir ketika momentum politik tiba, tetapi konsisten bekerja ketika masyarakat menghadapi persoalan sehari-hari.
Hari Tani Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa membangun Indonesia berarti juga membangun kesejahteraan petani.
PAN Bantu Rakyat pada akhirnya bukan sekadar rangkaian kata. Ia harus diwujudkan melalui keberpihakan, kerja nyata, mendengar aspirasi, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Sebab ketika petani sejahtera, pangan kuat. Ketika pangan kuat, fondasi bangsa pun semakin kokoh.
