Hari Guru Nasional, Senator Jilbab Ijo Mendorong Perluasan Akses Pendidikan Inklusif

4 Min Read
Hari Guru Nasional, Senator Jilbab Mendorong Perluasan Akses Pendidikan Inklusif

SURABAYA, suararakyat.id – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, nilai adab dalam menuntut ilmu kembali digaungkan oleh Anggota DPD RI Komite III, Lia Istifhama. Pada momentum Hari Guru Nasional 2025, perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan bahwa guru bukan sekadar profesi, melainkan pilar peradaban yang menjaga cahaya pengetahuan tetap hidup dari generasi ke generasi.


Ning Lia mengawali refleksinya dengan pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya menuntut ilmu dengan sopan santun, ketenangan, serta kerendahan hati terhadap guru. Ia mencontohkan kisah ayahnya, KH Masykur Hasyim, yang pernah mendapatkan restu Kiai Kholili sebelum melanjutkan belajar ke Tambakberas, sebuah tradisi pesantren yang menegaskan bahwa keberkahan ilmu lahir dari keridlaan guru.



“Spirit seperti inilah yang seharusnya menjadi pondasi pendidikan nasional: adab, penghormatan kepada guru, dan perlindungan terhadap profesi pendidik,” ujar Ning Lia, keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu, Selasa (25/11/2025).

Selama satu tahun pengabdian sebagai senator Jawa Timur, isu-isu terkait guru menjadi fokus advokasi Ning Lia, khususnya dalam pembahasan revisi UU Sisdiknas awal 2025. Ia menegaskan bahwa perbaikan regulasi pendidikan harus menyentuh persoalan struktural, bukan sekadar perubahan tekstual.

Menurutnya, banyak guru berada dalam situasi rentan. Mereka dituntut mencetak generasi unggul, namun sering berhadapan dengan ancaman kriminalisasi akibat kesalahan administratif maupun miskomunikasi di ruang belajar.

“Guru seharusnya fokus mendidik, bukan hidup dalam ketakutan karena laporan administratif. Saya sendiri pernah kehilangan 10 bulan tunjangan profesi saat mengajar di masa Covid. Sistemnya harus diperbaiki,” tegas Doktor Manajemen Ekonomi Islam (MEI) UINSA tersebut.

Ia juga menilai birokratisasi pendidikan yang berlebihan membuat guru teralienasi dari tugas utamanya: membimbing perkembangan karakter, emosi, dan intelektual siswa. “Banyak pendidik terjebak laporan, bukan pengasuhan intelektual,” tambah penerima DetikJatim Awards 2025 itu.

Salah satu fokus besar Ning Lia adalah perluasan akses pendidikan inklusif. Ia mendorong agar sekolah inklusi mendapatkan BOS khusus agar layanan untuk anak berkebutuhan khusus tidak bergantung pada kondisi keuangan sekolah.

Menurutnya, inklusi bukan hanya kebijakan teknis, tetapi cermin moral bangsa. Indonesia, katanya, tidak akan mencapai visi Indonesia Emas 2045 jika masih gagal menyediakan pendidikan berkualitas bagi seluruh anak tanpa kecuali.

“Keberhasilan bangsa ditentukan oleh kemampuannya memberi ruang bagi semua anak. Inklusi adalah komitmen peradaban,” ujar Senator Jatim yang dinobatkan sebagai Wakil Rakyat Terpopuler versi ARCI 2025 itu.

Ning Lia juga menekankan pentingnya kebijakan penempatan guru berbasis zonasi. Selain mengurangi risiko kecelakaan akibat jarak tempuh jauh, zonasi memberi ruang bagi pendidik untuk berinteraksi lebih organik dengan masyarakat sekitar sekolah.

Kebijakan ini, menurutnya, adalah manifestasi pendidikan humanis, menempatkan guru sebagai manusia yang memiliki kebutuhan akan keselamatan, keseimbangan hidup, dan ruang pengabdian yang wajar.

Ning Lia kembali mengingatkan pesan para ulama bahwa ilmu bukan sekadar materi yang dipelajari, tetapi cahaya yang ditransfer melalui keteladanan, kasih sayang, dan adab antara murid dan guru.

“Bagaimana mungkin kita merasa semakin berilmu, tetapi makin lupa menundukkan kepala? Ilmu itu cahaya. Tidak ada ruang kosong selama ilmu dan adab mengisinya,” ungkap Putri KH Masykur Hasyim itu.

Bagi Ning Lia, Hari Guru bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momen refleksi nasional. Momentum untuk memastikan perlindungan hukum bagi pendidik, memperkuat pendidikan inklusif, menertibkan administrasi, hingga menegakkan penghormatan terhadap guru sebagai penjaga peradaban.

Share This Article