Muktamar NU ke-35: Menjemput Abad Kedua, Menata Masa Kini, Menentukan Masa Depan Bangsa

7 Min Read
Muktamar NU ke-35: Menjemput Abad Kedua, Menata Masa Kini, Menentukan Masa Depan Bangsa

Oleh: Slamet Ariyadi

Kader NU | Ketua Umum PB IKA PMII | Anggota DPR RI Fraksi PAN | Ketua Umum BM PAN

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan atau agenda rutin organisasi. Muktamar ini harus dibaca sebagai momentum sejarah: sebuah persimpangan penting ketika NU menatap perjalanan menuju abad kedua dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Seratus tahun pertama telah memberikan pelajaran panjang tentang bagaimana NU tumbuh, bertahan, beradaptasi, dan memberikan kontribusi bagi umat serta bangsa. Namun, memasuki abad kedua, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi sekadar “apa yang telah dilakukan NU?”, melainkan “apa yang harus dilakukan NU untuk menjawab tantangan seratus tahun berikutnya?”

Di sinilah Muktamar ke-35 memperoleh makna strategis.

NU Tidak Boleh Hanya Bernostalgia dengan Kejayaan Masa Lalu

Sejarah adalah fondasi, bukan tempat untuk berhenti.

NU memiliki warisan keilmuan, tradisi pesantren, jaringan ulama, kekuatan masyarakat sipil, serta pengalaman panjang dalam menjaga keutuhan bangsa. Semua itu merupakan modal sosial yang sangat besar. Tetapi dunia telah berubah. Tantangan generasi hari ini tidak sepenuhnya sama dengan tantangan generasi pendiri NU.

Anak muda hari ini hidup dalam ekosistem digital. Mereka menghadapi disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, perubahan pola pekerjaan, krisis lingkungan, kompetisi global, hingga perubahan geopolitik yang berlangsung sangat cepat.

Karena itu, NU harus mampu menjadikan tradisi sebagai kekuatan untuk beradaptasi, bukan alasan untuk menutup diri dari perubahan.

NU harus tetap berakar kuat, tetapi memiliki pandangan yang jauh ke depan.

Anak Muda Bukan Sekadar Penerus, Tetapi Penentu

Salah satu pekerjaan rumah terbesar NU menuju abad kedua adalah memastikan regenerasi tidak berhenti pada pergantian usia kepemimpinan.

Anak muda harus diberikan ruang untuk berpikir, memimpin, mengambil keputusan, dan menawarkan gagasan baru.

Kita membutuhkan generasi muda NU yang tidak hanya fasih berbicara tentang tradisi, tetapi juga menguasai teknologi. Tidak hanya memahami persoalan keumatan, tetapi juga mampu membaca ekonomi global. Tidak hanya aktif di ruang sosial, tetapi juga memiliki kapasitas untuk terlibat dalam politik kebangsaan, kewirausahaan, pendidikan, riset, dan inovasi.

Regenerasi harus bergerak dari sekadar transfer kepemimpinan menjadi transfer pengetahuan, pengalaman, nilai, dan kesempatan.

Jika anak muda hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, sementara keputusan strategis selalu ditentukan oleh generasi sebelumnya, maka regenerasi akan berjalan lambat. Sebaliknya, jika generasi muda dipercaya dan dibimbing untuk mengambil tanggung jawab, NU akan memiliki energi baru untuk menghadapi abad kedua.

Muktamar Harus Melahirkan Agenda, Bukan Sekadar Resolusi

Muktamar NU ke-35 harus berani menghasilkan agenda besar yang konkret.

NU perlu membicarakan bagaimana pendidikan pesantren menghadapi era kecerdasan buatan. Bagaimana warga NU dapat menjadi pelaku ekonomi digital, bukan sekadar konsumen. Bagaimana kader muda NU dipersiapkan menjadi pemimpin di berbagai sektor. Bagaimana pesantren menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bagaimana NU memperkuat literasi digital sekaligus menghadapi disinformasi dan ekstremisme di ruang maya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus masuk dalam agenda besar menuju abad kedua.

Kita tidak boleh puas dengan banyaknya rekomendasi apabila setelah muktamar rekomendasi tersebut berhenti menjadi dokumen.

Muktamar harus menghasilkan roadmap.

Ada target yang jelas, program yang terukur, kaderisasi yang berkelanjutan, dan mekanisme evaluasi. Dengan demikian, keputusan muktamar tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi benar-benar menjadi instrumen perubahan.

NU dan Masa Depan Indonesia

Membicarakan masa depan NU pada hakikatnya juga membicarakan masa depan Indonesia.

NU telah menjadi bagian penting dari perjalanan kebangsaan. Karena itu, memasuki abad kedua, NU harus semakin kuat dalam menjaga persatuan, demokrasi, toleransi, keadaban publik, dan keberagaman Indonesia.

Di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh algoritma media sosial, perbedaan pilihan politik, dan derasnya arus informasi, Indonesia membutuhkan kekuatan sosial yang mampu menjadi jembatan.

NU memiliki kapasitas tersebut.

Namun, peran itu tidak boleh berhenti pada slogan. NU harus terus menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sosial dan politik. Perbedaan harus dikelola sebagai kekuatan, bukan dipelihara menjadi permusuhan.

Politik boleh berbeda, tetapi persaudaraan kebangsaan tidak boleh putus.

Dari Pesantren untuk Indonesia dan Dunia

Abad kedua harus menjadi momentum bagi NU untuk meningkatkan kontribusi dari tingkat nasional menuju panggung global.

Pesantren memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membangun karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan ketahanan sosial. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut dikombinasikan dengan penguasaan sains, teknologi, bahasa asing, ekonomi, dan keterampilan masa depan.

Kita harus membangun generasi yang mampu membaca kitab sekaligus membaca perubahan zaman.

Generasi yang religius tetapi terbuka.

Berakar pada tradisi tetapi inovatif.

Cinta tanah air tetapi berpikiran global.

Memiliki karakter kuat sekaligus kompetensi yang tinggi.

Inilah wajah generasi NU yang dibutuhkan Indonesia menuju masa depan.

Menjemput Abad Kedua dengan Keberanian

Muktamar ke-35 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memimpin NU, tetapi ke mana NU akan dibawa.

Kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu merawat warisan para ulama sekaligus berani melakukan terobosan. Kepemimpinan yang mampu menyatukan generasi tua dan generasi muda. Kepemimpinan yang tidak terjebak pada rutinitas organisasi, tetapi memiliki visi besar tentang umat, bangsa, dan peradaban.

Abad kedua NU tidak boleh hanya menjadi perayaan usia. Ia harus menjadi lompatan peradaban.

Karena itu, Muktamar NU ke-35 harus menjadi titik tolak untuk menata masa kini dan menjemput masa depan.

Kita ingin melihat NU yang semakin kuat dalam pendidikan, semakin mandiri dalam ekonomi, semakin adaptif terhadap teknologi, semakin kokoh dalam menjaga kebangsaan, dan semakin besar kontribusinya bagi dunia.

Sebab, masa depan NU adalah bagian dari masa depan anak bangsa.

Dan kepada para pemuda NU, pesan saya sederhana: jangan hanya menjadi penonton sejarah. Jadilah bagian dari orang-orang yang menulis sejarah itu sendiri.

Dari pesantren kita belajar tentang akar. Dari zaman kita belajar tentang perubahan. Dari NU kita belajar tentang pengabdian. Dan menuju abad kedua, tugas kita adalah mengubah seluruh nilai itu menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang lebih maju, adil, berkeadaban, dan bermartabat.

Muktamar NU ke-35: merawat tradisi, menjawab zaman, menyiapkan generasi, dan menjemput masa depan.

Share This Article