JAKARTA,suararakyat.id – Ketua Umum Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), Slamet Ariyadi, menegaskan bahwa narasi yang beredar mengenai pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), “Kalau tanam padi tidak menguntungkan, ya tanam sawit,” merupakan potongan pernyataan yang tidak utuh sehingga berpotensi menyesatkan masyarakat.
Menurut Slamet, publik harus memahami keseluruhan konteks pidato Zulhas yang disampaikan dalam Seminar Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Sulawesi Selatan pada Selasa, 4 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan ajakan kepada petani untuk meninggalkan budidaya padi atau mengalihkan lahan pertanian menjadi perkebunan sawit.
“Potongan video atau kutipan yang beredar telah menghilangkan konteks utama dari pidato Pak Zulhas. Yang beliau sampaikan justru merupakan kritik terhadap cara pandang ekonomi pasar bebas yang selama ini menganggap kebutuhan beras bisa dipenuhi dengan impor jika memiliki keuntungan dari komoditas lain, seperti sawit,” kata Slamet Ariyadi.
Anggota DPR RI Fraksi PAN itu menjelaskan, Zulhas sedang menggambarkan pola pikir kebijakan masa lalu yang menyebabkan Indonesia memiliki ketergantungan terhadap impor beras. Karena itu, ucapan tersebut tidak dapat dimaknai sebagai kebijakan pemerintah saat ini.
“Pak Zulhas justru menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki arah kebijakan yang berbeda. Swasembada pangan menjadi prioritas nasional karena menyangkut kehormatan bangsa dan kedaulatan negara,” ujarnya.
Slamet menambahkan, pemerintah saat ini berkomitmen mengurangi ketergantungan impor melalui peningkatan produktivitas pertanian, pembangunan infrastruktur pertanian, penguatan kelembagaan petani, hingga peningkatan kesejahteraan petani.
“Prinsip pemerintah sangat jelas, yakni memperkuat produksi pangan dalam negeri. Tidak ada kebijakan yang mendorong petani meninggalkan tanaman pangan. Sebaliknya, seluruh program pemerintah diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menerima informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, potongan video tanpa konteks sering kali menimbulkan kesalahpahaman dan memicu opini yang tidak sesuai dengan fakta.
“Saya mengajak masyarakat untuk melihat rekaman pidato secara utuh sebelum menyimpulkan. Jangan mudah terprovokasi oleh potongan narasi yang dapat menyesatkan. Mari bersama-sama mendukung program swasembada pangan yang menjadi cita-cita pemerintah demi ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia,” pungkas Slamet.
