Ketika Ketua GP Ansor Jawa Timur menyampaikan persoalan terkait penyebutan PAN sebagai “Partai Anak Nahdliyin” dan mengaitkannya dengan persoalan pendamping desa, kami menghormatinya sebagai bagian dari dinamika demokrasi serta kebebasan dalam menyampaikan pandangan.
Bahkan, pernyataan Sahabat Gus Musaffa Safril menurut saya bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan atau diperdebatkan. Saya justru memaknainya sebagai bentuk perhatian, kepedulian, sekaligus kedekatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa PAN semakin terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga Nahdliyin.
Ini juga menjadi sebuah isyarat bahwa PAN semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Nahdliyin, terutama dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, menjaga persatuan, serta bersama-sama membangun bangsa dan negara.
Karena itu, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga NU, termasuk kepada Ketua GP Ansor Jawa Timur, Sahabat Gus Musaffa Safril. Saya melihat apa yang beliau sampaikan tidak semata-mata sebagai kritik terhadap PAN, tetapi juga sebagai pesan agar kader-kader Nahdliyin terus mendapatkan ruang, perhatian, dan kesempatan untuk berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kedekatan PAN dengan warga Nahdliyin bukanlah sesuatu yang baru. PAN terus membangun komunikasi, silaturahmi, dan kebersamaan dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk ulama, tokoh NU, serta warga Nahdliyin.
Salah satu contohnya terlihat pada Muktamar NU ke-35 di Jombang. Saat itu, PAN hadir di tengah-tengah warga Nahdliyin melalui konsep “Teras de’PAN”, yang menjadi ruang pelayanan sekaligus ruang kebersamaan bagi masyarakat yang hadir menyemarakkan Muktamar NU ke-35.
Selain itu, Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, juga memiliki hubungan yang baik dan dekat dengan banyak ulama serta tokoh NU, termasuk Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU demisioner dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU terpilih.
Hubungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus membangun komunikasi, mempererat silaturahmi, dan menjaga kebersamaan demi persatuan bangsa.
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan juga memiliki kedekatan dengan Gus Helmy Faishal Zaini, Sekjen PBNU periode 2015–2021. Dalam berbagai kesempatan ketika menyapa warga Nahdliyin, Gus Helmy Faishal Zaini juga kerap mendampingi Pak Zulkifli Hasan.
PAN pada prinsipnya memberikan ruang dan kesempatan kepada kader-kader Nahdliyin untuk berproses, berkontribusi, dan mengambil bagian dalam perjuangan politik.
Salah satu bentuknya adalah kepercayaan yang diberikan kepada saya, Slamet Ariyadi, untuk memimpin Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN).
Bagi saya, kepercayaan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa PAN merupakan rumah besar yang terbuka bagi siapa saja, termasuk kader-kader Nahdliyin yang ingin mengabdi dan memberikan kontribusi melalui jalur politik.
Terkait persoalan pendamping desa, perlu kami luruskan bahwa kebijakan mengenai penempatan dan pengelolaan pendamping desa merupakan bagian dari kewenangan dan kebijakan Kementerian Desa.
Karena itu, apabila terdapat aspirasi, kritik, maupun persoalan terkait pendamping desa, tentu akan lebih efektif apabila disampaikan langsung kepada Kementerian Desa agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan mekanisme yang berlaku.
Memang benar, Menteri Desa merupakan salah satu kader terbaik PAN, yaitu Saudaraku Yandri Susanto. Saya mengenal beliau dengan baik dan meyakini bahwa beliau merupakan sosok yang terbuka terhadap masukan maupun kritik.
Karena itu, saya justru mengajak seluruh pihak, termasuk sahabat-sahabat Ansor dan warga Nahdliyin, apabila memiliki aspirasi terkait pembangunan desa maupun pendamping desa, agar disampaikan langsung kepada Menteri Desa atau melalui saluran resmi Kementerian Desa.
Saya yakin Bang Yandri akan terbuka mendengarkan setiap aspirasi dan berupaya mencari solusi terbaik bagi masyarakat.
Pada prinsipnya, PAN tidak ingin membangun jarak dengan siapa pun. PAN ingin terus membuka ruang dialog, memperkuat komunikasi, dan membangun jembatan kebersamaan dengan seluruh elemen bangsa, termasuk warga Nahdliyin.
Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut dapat menjadi energi positif untuk mencari solusi dan menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
PAN hadir bukan untuk mengambil atau mengklaim identitas siapa pun. PAN hadir untuk merawat kebersamaan, menjaga persatuan, memperjuangkan aspirasi rakyat, dan bekerja bersama seluruh elemen bangsa.
H. Slamet Ariyadi, S. Psi., M. Sos (Kader NU, Kader PAN, Ketua Umum BM PAN)
